Kerukunan di Kampung Wonorejo, Papua
Kampung Wonorejo, Arso Timur,
Papua adalah salah satu kampung transmigran. Warganya berasal dari berbagai
daerah padat penduduk di Pulau Jawa. Kondisi tersebut membuat warga di kampung
Wonorejo memiliki perbedaan suku, agama, dan budaya.
Di Kampung Wonorejo, posisi rumah
warga bersebelahan. Semua warga akrab tak terkecuali anak-anak. Setiap hari
anak-anak di Kampung Wonorejo pergi ke sekolah bersama. Itu sebabnya mereka
sangat akrab. Mereka suka bermain bersama dan sering menghabiskan waktu di
rumah satu sama lain.
Meskipun berbeda suku,
kebersamaan begitu kental terlihat dalam keseharian mereka. Setiap akhir minggu
anak-anak Kampung Wonorejo berkumpul di balai utama kampung. Biasanya, mereka
olahraga bersama atau sekadar bermain-main. Bagi anak-anak yang menginjak usia
remaja akan mendapat penyuluhan tentang menjaga kebersihan diri saat pubertas
dari tenaga kesehatan. Kadang-kadang mereka juga membantu orang tua yang sedang
bekerja bakti membersihkan lingkungan.
Semua warga di Kampung Wonorejo
hidup rukun. Mereka menyadari bahwa para pahlawan telah meraih kemerdekaan
dengan semangat perjuangan tinggi. Dalam meraih kemerdekaan, para pejuang tidak
memandang perbedaan daerah, agama, dan suku bangsa. Mereka bersatu padu untuk
merebut kemerdekaan Indonesia dari tangan penjajah. Oleh sebab itu, semua warga
Kampung Wonorejo ingin menjaga persatuan di daerah mereka sebagai wujud menjaga
kesatuan NKRI. Mereka hidup rukun dalam perbedaan.
Potret Kampung Wonorejo, Arso
Timur, menunjukkan kepada kita tentang kerukunan dalam keragaman. Semua warga
kampung hidup rukun walaupun berbeda asal usul suku bangsa, agama, dan budaya.
Keragaman suku bangsa menjadi modal sosial dalam pembangunan.
Keberadaan berbagai suku bangsa
yang ada di Kampung Wonorejo ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah tentang
transmigrasi. Program transmigrasi di mulai sejak pemerintahan Orde Baru pada
tahun 1961. Pemerintah Orde Baru menggalakkan program transmigrasi sebagai
upaya untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang sejahtera. Melalui program ini
membuktikan bahwa setelah mengikuti transmigrasi, masyarakat memiliki rumah,
lahan pertanian, dan keterampilan sebagai bekal hidup di lokasi transmigrasi.
Program tersebut mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hal ini
berlandaskan pada hak setiap warga negara untuk mendapat penghidupan dan
pendidikan yang layak dari negara.
Saat ini latar belakang kehidupan
warga di Kampung Wonorejo sudah mengalami percampuran budaya dan agama.
Sebagian warga Kampung Wonorejo sudah melakukan pernikahan antarsuku. Bagi
warga Kampung Wonorejo, keragaman adalah kekayaan mereka.
Dalam perkembangannya, ada
beberapa yang harus diperhatikan antara Kampung Wonorejo dan kampung-kampung
sekitarnya, misalnya Kampung Kibay. Penduduk asli Kibay terdiri atas 121 kepala
keluarga. Sebagian dari mereka tersebar di Distrik Arso. Wilayah Kibay memiliki
potensi sumber daya alam seperti hutan dan hasil pertanian. Warga di Kampung
Kibay menanam sayur dan umbi-umbian untuk dikonsumsi sebagai makanan pengganti
beras. Para wanita di kampung ini juga terampil menganyam noken dari kulit
pohon. Sebagian warga bekerja serabutan penebang kayu, tukang bangunan, dan buruh
harian di perkebunan sawit.
Potret Kampung Kibay memberi
gambaran kepada kita tentang mata pencaharian sebagian besar penduduk asli
Papua dan para transmigran, seperti di Kampung Wonorejo. Di Kampung Wonorejo,
kehidupan masyarakat cukup harmonis. Mereka hidup berdampingan dengan penduduk
asli Papua. Apabila terjadi peristiwa yang menyangkut hukum, seperti pencurian
atau gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat akan diproses secara hukum. Akan
tetapi, sebelumnya mereka harus menyelesaikan masalah tersebut melalui
paguyuban adat. Jika ada kerusuhan di Kampung, paguyuban selalu berperan
penting dalam proses penyelesaian masalah.
Para perempuan di Kampung
Wonorejo dan Kampung Kibay juga saling bertukar pengetahuan antara perempuan
Papua dan perempuan transmigrasi yang berasal dari Jawa. Para perempuan Jawa
mengajarkan perempuan Papua cara membuat kue dari bahan tepung singkong dan
cara membuat sayur dari batang pohon pisang. Sebelumnya orang Papua, selalu
membuang batang pohon pisang yang sudah ditebang. Berkat pengetahuan dari
perempuan Jawa, kini mereka memanfaatkan batang pisang menjadi sayur yang
lezat.
Penduduk asli Papua dan warga
transmigran saling bertoleransi. Mereka saling menghormati perbedaan agama
maupun budaya. Mereka menganggap bahwa perbedaan budaya dan agama merupakan
kekayaan bangsa Indonesia yang harus dijaga. Para penduduk bisa hidup rukun
berdampingan sebagai satu bangsa yaitu bangsa Indonesia.
Warga Kampung Kibay dan Kampung
Wonorejo tetap menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Mereka juga menjaga persatuan dan kesatuan serta selalu menjunjung tinggi
semboyan Bhinneka Tunggal Ika dalam segala perbedaan yang ada. Mereka memiliki
jati diri sebagai bangsa Indonesia yang beretika dan santun, serta mempunyai
jiwa gotong royong, dan toleransi tinggi. Mereka ingin menciptakan kehidupan di
bumi Indonesia yang damai, tenteram, hidup rukun berdampingan.
Tugas !
1.
Apa judul bacaan di atas?
2.
Apa kata kunci pada judul bacaan di atas?
3.
Apakah informasi dari bacaan berdasarkan kata
kunci pada judul?
4.
Apa yang dapat kamu lakukan sebagai warga
masyarakat dalam memaknai kemerdekaan?
5.
Bagaimana pelaksanaan kewajibanmu sebagai warga
masyarakat?
6. Apa makna kemerdekaan bagimu dan keluargamu?
Coba diskusikan bersama orang tuamu. Kemudian, tuliskan hasil diskusi pada
kolom berikut.
Seperti biasa jawaban ditulis dibuku kemudian di foto dan dikrim lewat wa
SELAMAT MENGERJAKAN !!!


Posting Komentar