0
Pesantren adalah tempat kita belajar terutama dalam memperdalam ilmu agama. Di dalamnya kita tidak hanya belajar tentang disiplin ilmu tertentu tapi juga belajar bersosial. Mempraktekkan apa yang kita pelajari langsung di kehidupan nyata. Terkadang ada sesuatu yang menurut kacamata umum adalah tindakan kurang teepuji namun dalam pesantren adalah sesuatu yang lumrah.  Dan itupun ternyata memiliki alasan yang cukup rasional.  Seperti sebuah cerita yang akan saya ceritakan dalam kisah berikut.

Sebut saja namanya Maulana. Ia berasal dari keluarga yang kental dengan ilmu agama. Boleh dibilang ia berasal dari keluarga yang religius. Sejak kecil ia di didik oleh ayahnya yang merupakan lulusan pesantren dan sekarang menjadi tokoh panutan di daerahnya. 

Ia mempunyai 3 orang saudara, dua orang kakak perempuan dan ia sendiri satu-satunya anak laki-laki. Sekaligus jadi anak terakhir dalam keluarga tersebut.

Setelah selesai menamatkan sekolah menengah tingkat pertama ia melanjutkan studinya di kabupaten lain. Ia bersekolah formal sekaligus melanjutkan tradisi keluarga yaitu nyantri. 

Dari sinilah cerita itu dimulai ...

Part 1. Sandal milik bersama .... 

Pagi itu ia bangun lebih awal. Setelah sholat dan bersih-bersih ia langsung berkemas menyiapkam segala sesuatu yang akan di bawa. Kemudian ia berangkat ke pesantren di kawal oleh ayahandanya. 

Hari pertama dipesantren.
"GHOSOB"

"Ghosob merupakan suatu tindakan di mana seseorang memakai barang seseorang tanpa izin. Namun tidak untuk diambil ataupun dimiliki. Sehingga ghosob merupakan tindakan yang hampir sama dengan mencuri. Bedanya kalau mengghosob barang, artinya barang tersebut akan dikembalikan bahasa gampangnya minjam tanpa izin."

Di dunia pesantren sandal terutama sandal japit adalah barang milik bersama. Jadi jangan heran kalau ada tamu yang bertandang ke pesantren kemudian yang dipake sandal merek japit, eh maaf maksudnya sandal jenis japit yang murahan, kemudian sudah usang warnanya buluk lagi. Dapat dipastikan ia pulang dalam kondisi nyeker men alias telanjang kaki. 

Itu juga yang dialami maulana ketika baru kali pertama di pesantren. Penasaran bagaimana ceritanya. Yuk intip terus kelanjutan ceritanya ...

Bersambung ...

Oleh, 
Ibadrul Huda


------ Jangan lupa bagikan ya kawan! ------

Posting Komentar

 
Top